BANJARNEGARA, JADIKABAR.ID — Ribuan wisatawan memadati Kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Sabtu (29/8/2026). Di tengah udara khas pegunungan Dieng, perhatian pengunjung tertuju pada salah satu tradisi budaya yang menjadi bagian penting dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) XVI 2026, yakni prosesi ruwatan dan pencukuran rambut gimbal anak atau yang dalam tradisi setempat dikenal sebagai anak bajang.
Sebanyak 13 anak mengikuti prosesi tersebut pada hari kedua pelaksanaan DCF 2026. Mereka berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang.
Prosesi diawali dengan kirab budaya dari rumah tetua adat menuju Kompleks Candi Arjuna. Sekitar pukul 08.00 WIB, anak-anak peserta kirab terlihat mengenakan pakaian berwarna putih dan jarik batik. Mereka kemudian diarak menggunakan andong yang telah disiapkan menuju lokasi prosesi.
Kirab tersebut menjadi salah satu rangkaian yang menarik perhatian wisatawan. Sejumlah pengunjung bahkan telah datang sejak sehari sebelumnya untuk mengikuti kemeriahan DCF yang berlangsung pada 28–30 Agustus 2026.
Prosesi pencukuran rambut gimbal menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan dalam penyelenggaraan DCF. Bagi masyarakat setempat, ritual tersebut memiliki makna budaya dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam tradisi masyarakat Dieng, rambut gimbal pada anak tertentu dipercaya memiliki keterkaitan dengan kisah dan kepercayaan lokal. Prosesi ruwatan kemudian menjadi bagian dari tradisi ketika rambut tersebut dicukur, dengan permintaan tertentu yang disampaikan oleh anak sebelum prosesi.
Kisah mengenai anak berambut gimbal telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Dieng dan kemudian menjadi salah satu atraksi budaya yang diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui penyelenggaraan Dieng Culture Festival.
Namun, tradisi tersebut tidak semata-mata menjadi tontonan wisata. Bagi masyarakat setempat, prosesi ruwatan memiliki nilai budaya yang perlu dihormati sehingga pelaksanaannya dilakukan dengan tata cara yang telah diwariskan dalam komunitas.
Antusiasme wisatawan terlihat sejak prosesi kirab berlangsung. Pengunjung memadati kawasan Candi Arjuna untuk menyaksikan secara langsung rangkaian tradisi yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui televisi, YouTube, atau media sosial.
Salah satunya Pujianti, wisatawan asal Bandung, Jawa Barat. Ia datang bersama rombongan dan mengaku penasaran karena selama ini hanya melihat prosesi rambut gimbal melalui media.
“Biasanya kita lihat hanya di YouTube atau media sosial. Penasaran sekali, akhirnya baru tahun ini bisa langsung datang ke Dieng untuk menyaksikan acara yang dianggap sakral oleh masyarakat sini,” ujar Pujianti kepada wartawan, Sabtu (29/8/2026).
Ia mengaku semakin tertarik setelah mengetahui cerita masyarakat mengenai rambut gimbal yang dimiliki sebagian anak peserta prosesi.
“Tadi juga sempat tanya sama orang sini, apakah memang rambut itu dari lahir sudah gimbal. Mereka bilang iya. Katanya rambut itu tidak bisa diluruskan atau dikeriting. Ini yang membuat saya penasaran,” katanya.
Menurut Pujianti, daya tarik Dieng bukan hanya berasal dari panorama alamnya. Tradisi masyarakat dan berbagai pertunjukan budaya yang dikemas dalam DCF juga menjadi alasan wisatawan datang.
“Kalau tidak menarik, tidak mungkin kita satu rombongan sampai ke sini. Banyak juga tadi kita lihat wisatawan dari luar negeri yang datang untuk melihat langsung kemeriahan DCF dan prosesi adat tersebut. Pokoknya keren sekali,” ujarnya.
Ia menilai perpaduan antara alam dan budaya membuat Dieng memiliki karakter tersendiri sebagai destinasi wisata.
“Festival budaya di kawasan Dieng memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya pemandangan alamnya yang indah, tetapi juga budaya yang ditampilkan. Makanya tidak bisa dimungkiri acara tahunan ini selalu menyedot perhatian ribuan masyarakat dari berbagai daerah,” tambah Pujianti.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa festival budaya dapat menjadi ruang pertemuan antara masyarakat lokal dengan wisatawan dari berbagai daerah. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun kemudian diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas melalui rangkaian festival.
Selain prosesi pencukuran, salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung adalah permintaan dari anak-anak peserta ruwatan.
Permintaan tersebut berbeda-beda. Ada yang menginginkan sepeda, hewan peliharaan, perlengkapan rumah tangga hingga perangkat elektronik.
Salah satunya adalah Hafizah Zia Almahira, atau Zia, asal Desa Mekarsari, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Ia menyampaikan keinginan mendapatkan sebuah laptop dan sepasang ayam kalasan.
“Laptopnya buat belajar dan ingin jadi konten kreator. Ayamnya buat dipelihara karena tidak punya hewan,” ungkap Zia.
Cerita berbeda datang dari Herlista Zoya Elmeera, anak asal Desa Sembungan, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Wonosobo.
Zoya menyampaikan permintaan berupa dua ekor ikan hias, dua kilogram daging bebek dan sebuah sepeda berwarna pink.
“Karena tidak pernah punya ikan hias di rumah. Dagingnya nanti dibuat makan bareng Bapak sama Ibu, kalau sepedanya untuk sekolah,” kata Zoya.
Permintaan tersebut menjadi cerita tersendiri dalam pelaksanaan prosesi. Bagi anak-anak peserta, benda yang diminta juga berkaitan dengan keinginan dan kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut daftar 13 anak yang mengikuti prosesi ruwatan dan pencukuran rambut gimbal dalam DCF 2026 berdasarkan data yang dihimpun:
- Anindie Cheryl Shaheenna, Desa Mlandi, Kecamatan Kertek, Wonosobo – dua ekor kambing kecil, jantan dan betina.
- Andien Checilia Shaquilla, Desa Mlandi, Kecamatan Kertek, Wonosobo – dua ekor kambing kecil, jantan dan betina.
- Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana, Gatak Sari, Kecamatan Wonosobo – satu set peralatan makan sebanyak enam buah seperti milik ibunya.
- Winda Aulia, Dusun Buntu, Desa Bakal, Kecamatan Batur, Banjarnegara – sepeda listrik warna pink.
- Mafaza Nuha Raisa, Desa Pandansari, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara – sepeda warna ungu untuk digunakan jalan-jalan di Dieng.
- Hafizah Zia Almahira (Zia), Desa Mekarsari, Kecamatan Garung, Wonosobo – laptop dan sepasang ayam kalasan.
- Aurellia Aisha Ramadhani, Desa Metawana, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara – perosotan dan ayunan warna pink.
- Umi Fatimatuz Zahro, Desa Deles, Kecamatan Bawang, Batang – sepeda listrik warna pink serta dua ekor ayam hidup, jantan dan betina.
- Alvi Zahidatul Vardah, Desa Gembol, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara – selendang kecil dan besar dengan warna bebas kecuali hijau serta HP Redmi Note 14 berkapasitas 8 GB.
- Laira Anindya Maryam, Desa Krakal Taman Karangluhur, Kecamatan Kertek, Wonosobo – meminta rambutnya dicukur di Dieng.
- Herlista Zoya Elmeera, Desa Sembungan, Kecamatan Sedayu, Wonosobo – dua ekor ikan hias, dua kilogram daging bebek dan sepeda warna pink.
- Lilla Chandra Kusuma, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara – motor trail dan rambutnya dicukur.
- Malayeka Rafana Arabella, Desa Bandingan, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara – sepeda listrik warna pink dengan keranjang di bagian depan.
Dieng selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata unggulan Jawa Tengah yang memiliki perpaduan antara panorama alam pegunungan dan kekayaan budaya masyarakat.
Keberadaan Kompleks Candi Arjuna juga menjadi bagian penting dari identitas kawasan tersebut. Candi-candi di Dieng merupakan peninggalan masa Hindu Jawa kuno dan menjadi salah satu penanda sejarah panjang kawasan Dieng.
Dalam perkembangannya, kegiatan budaya seperti DCF menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi masyarakat Dieng kepada wisatawan. Festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan hiburan, tetapi juga menampilkan tradisi lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Prosesi rambut gimbal menjadi salah satu bagian yang memiliki daya tarik kuat karena mempertemukan unsur tradisi, cerita masyarakat dan pengalaman wisata.
Meski menarik perhatian wisatawan, prosesi tersebut tetap merupakan tradisi budaya masyarakat sehingga penting bagi pengunjung untuk menghormati tata cara dan nilai yang berlaku selama kegiatan berlangsung.
Pada DCF XVI 2026, kehadiran 13 anak peserta ruwatan kembali menjadi perhatian utama pengunjung. Kirab budaya, pakaian tradisional, prosesi pencukuran serta cerita mengenai permintaan masing-masing anak membuat rangkaian tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
Di tengah ribuan wisatawan yang memenuhi Kompleks Candi Arjuna, tradisi rambut gimbal kembali menjadi pengingat bahwa daya tarik Dieng bukan hanya tentang pemandangan alam.
Ada warisan budaya, cerita masyarakat dan tradisi yang terus diperkenalkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi wisatawan, menyaksikan prosesi tersebut menjadi pengalaman budaya. Sementara bagi masyarakat Dieng, tradisi itu menjadi bagian dari identitas yang terus dijaga dan diperkenalkan melalui berbagai kegiatan budaya.
(Ryo)













