Berita  

Bisakah Teknologi Selamatkan Kejayaan Apel Batu?

BRIN Bawa Inovasi Pertanian Modern ke Kota Batu

Bisakah Teknologi Selamatkan Kejayaan Apel Batu?
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menerima audiensi BRIN terkait penguatan pertanian berbasis riset dan teknologi.

KOTA BATU, JADIKABAR.ID – Nama Kota Batu selama puluhan tahun identik dengan apel. Buah berwarna merah kehijauan yang tumbuh subur di dataran tinggi ini bahkan telah menjadi ikon daerah sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Namun di balik popularitas tersebut, sektor pertanian Kota Batu kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, berkurangnya lahan pertanian, hingga regenerasi petani yang tidak selalu berjalan mulus.

Di tengah kondisi tersebut, harapan baru muncul melalui pemanfaatan riset dan teknologi pertanian modern. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dijadwalkan menggelar workshop pertanian pada 9–12 Juni 2026 di Balai Riset dan Pengembangan Mutu Pertanian (BRMP) Jestro, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah nyata untuk memperkuat sektor pertanian lokal melalui penerapan teknologi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Sejarah pertanian Kota Batu tidak bisa dilepaskan dari komoditas apel yang mulai berkembang sejak era kolonial Belanda. Berkat kondisi geografis yang berada di ketinggian sekitar 700 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut, wilayah ini memiliki suhu yang ideal untuk budidaya tanaman hortikultura.

Selain apel, Kota Batu juga dikenal sebagai sentra produksi sayuran dataran tinggi, jeruk, stroberi, bunga hias, hingga tanaman herbal. Sektor pertanian bahkan menjadi fondasi ekonomi daerah jauh sebelum pariwisata berkembang pesat seperti saat ini.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, para petani menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan pola musim menyebabkan jadwal tanam dan panen menjadi sulit diprediksi. Curah hujan ekstrem maupun musim kemarau yang lebih panjang berpotensi menurunkan produktivitas hasil pertanian.

Belum lagi persoalan keterbatasan lahan akibat perkembangan kawasan permukiman dan pariwisata yang terus tumbuh.

Dalam audiensi dengan Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, perwakilan BRIN memaparkan konsep protected farming atau pertanian terlindungi sebagai salah satu solusi menghadapi tantangan tersebut.

Sistem ini memanfaatkan teknologi seperti greenhouse, screen house, pengendalian suhu, pengaturan kelembapan udara, hingga pemantauan tanaman berbasis data untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Dengan metode tersebut, tanaman dapat lebih terlindungi dari cuaca ekstrem, serangan hama, maupun penyakit tanaman yang sering menyebabkan kerugian bagi petani.

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menyambut baik pelaksanaan workshop tersebut dan menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, dan petani menjadi langkah penting dalam memperkuat daya saing sektor pertanian.

“Kota Batu memiliki potensi pertanian yang besar. Kehadiran BRIN menjadi peluang untuk memperluas pemanfaatan riset dan teknologi agar petani semakin produktif, adaptif, dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Heli Suyanto.

Menurutnya, kemajuan sektor pertanian tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional, tetapi harus diperkuat dengan inovasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di tengah kekhawatiran tentang berkurangnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian, Kota Batu justru mulai menunjukkan fenomena yang berbeda.

Sejumlah anak muda kini memilih kembali mengelola lahan pertanian keluarga dengan pendekatan yang lebih modern. Mereka memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran, menggunakan sensor pemantau cuaca, hingga mengembangkan sistem irigasi otomatis yang mampu menghemat penggunaan air.

Fenomena ini dinilai menjadi modal penting dalam mewujudkan pertanian masa depan yang lebih efisien dan kompetitif.

Heli menyebutkan bahwa berbagai inovasi yang dilakukan petani muda perlu mendapatkan dukungan melalui riset, pendampingan, dan transfer teknologi secara berkelanjutan.

“Berbagai inovasi terus berkembang di kalangan petani Kota Batu, termasuk munculnya petani muda yang aktif melakukan eksperimen dan pengembangan teknologi pertanian secara mandiri. Potensi tersebut perlu didukung melalui pendampingan, riset, dan transfer pengetahuan yang berkelanjutan,” katanya.

Perubahan iklim saat ini menjadi salah satu isu global yang berdampak langsung terhadap sektor pertanian. Ketidakpastian musim membuat petani harus lebih adaptif dalam menentukan pola tanam dan strategi produksi.

Karena itu, penerapan teknologi pertanian berbasis riset menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Selain membantu meningkatkan hasil panen, teknologi juga dapat membantu petani mengurangi risiko kerugian akibat faktor cuaca.

Workshop yang akan digelar BRIN di Kota Batu diharapkan menjadi wadah berbagi ilmu dan pengalaman antara peneliti, pemerintah daerah, akademisi, serta petani sehingga lahir berbagai solusi yang dapat diterapkan langsung di lapangan.

Bagi masyarakat Kota Batu, pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari identitas daerah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, menjaga keberlanjutan sektor pertanian berarti menjaga masa depan ribuan keluarga yang menggantungkan hidupnya dari hasil kebun dan ladang.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dunia pendidikan, dan petani, Kota Batu memiliki peluang besar untuk menjadi contoh pengembangan pertanian modern di Indonesia.

Teknologi mungkin bukan satu-satunya jawaban, tetapi di tengah tantangan perubahan zaman, inovasi menjadi salah satu kunci penting agar kejayaan pertanian Kota Batu, termasuk ikon Apel Batu yang melegenda, tetap bertahan dan berkembang di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *