Berita  

Ahmad Nurdin Soroti Aksi Demo di Pematangsiantar, Ingatkan Demokrasi Jangan Ditunggangi Kepentingan Politik

Ahmad Nurdin Soroti Aksi Demo di Pematangsiantar, Ingatkan Demokrasi Jangan Ditunggangi Kepentingan Politik
Foto Istimewa Ahmad Nurdin Soroti Aksi Demo di Pematangsiantar, Ingatkan Demokrasi Jangan Ditunggangi Kepentingan Politik

JADIKABAR MEDAN Gelombang aksi unjuk rasa yang mengatasnamakan masyarakat Kota Pematangsiantar dan berisi kritik terhadap kepemimpinan Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, terus menjadi perbincangan publik. Di tengah beragam respons yang muncul, kalangan pemuda Sumatera Utara turut memberikan pandangannya terkait dinamika yang berkembang.

Salah satunya datang dari Pengurus Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Al Washliyah (PW IPA) Sumatera Utara, Ahmad Nurdin, S.H., yang menilai ruang demokrasi harus dijaga agar tidak berubah menjadi arena pertarungan kepentingan yang berpotensi mengganggu kondusivitas daerah.

Sebagai putra kelahiran Kota Pematangsiantar, Ahmad mengaku menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Namun ia mengingatkan bahwa setiap kritik yang disampaikan kepada pemerintah seharusnya dibangun di atas data, fakta, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Aksi penyampaian pendapat merupakan hak konstitusional warga negara. Tetapi kita berharap jangan sampai ruang demokrasi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membangun opini yang justru dapat mengganggu suasana damai dan harmonis yang selama ini terjaga di Kota Pematangsiantar,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Ahmad, berbagai dinamika yang muncul pasca kontestasi politik seharusnya tidak menghambat proses pembangunan daerah yang saat ini sedang berjalan. Ia menilai masyarakat perlu melihat berbagai program pembangunan dan capaian pemerintah daerah secara objektif.

Dalam pandangannya, sejumlah indikator seperti terjaganya toleransi antarumat beragama, stabilitas sosial, serta berbagai program pembangunan yang berjalan menjadi bagian dari fakta yang juga perlu mendapat perhatian publik.

“Kritik tentu diperlukan dalam demokrasi. Namun masyarakat juga perlu melihat berbagai capaian yang telah dilakukan pemerintah daerah sehingga penilaian yang muncul tetap berimbang dan objektif,” katanya.

Selain menyoroti substansi tuntutan yang disampaikan, Ahmad juga menyinggung representasi peserta aksi yang menurutnya menjadi perhatian publik.

Berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah dokumentasi dan video yang beredar di media sosial, ia mempertanyakan sejauh mana peserta aksi benar-benar merepresentasikan aspirasi masyarakat Kota Pematangsiantar secara luas.

“Dari berbagai dokumentasi yang beredar, muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai siapa saja yang terlibat dalam aksi tersebut dan sejauh mana mereka mewakili aspirasi warga Kota Pematangsiantar,” ujarnya.

Meski demikian, Ahmad menegaskan bahwa penilaian tersebut merupakan pandangan pribadinya sebagai bagian dari masyarakat yang mengikuti perkembangan isu tersebut.

Lebih lanjut, Ahmad mengajak generasi muda untuk tetap menjaga idealisme dalam menyikapi dinamika politik dan pemerintahan.

Menurutnya, pemuda memiliki peran penting sebagai penjaga demokrasi yang sehat dengan mengedepankan sikap kritis, objektif, dan independen.

“Pemuda harus tetap kritis, tetapi juga harus objektif. Jangan sampai idealisme tergadaikan hanya karena kepentingan kelompok tertentu. Kritik yang baik adalah kritik yang mampu menghadirkan solusi dan perbaikan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas daerah merupakan modal penting bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, setiap elemen masyarakat diharapkan mampu menjaga suasana yang kondusif di tengah berbagai perbedaan pandangan politik.

Di akhir keterangannya, Ahmad mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengawal jalannya pemerintahan melalui kritik yang konstruktif serta dukungan terhadap program-program yang dinilai bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, kepentingan pembangunan Kota Pematangsiantar harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan politik jangka pendek.

“Mari kita kawal pembangunan daerah dengan cara yang sehat. Berikan kritik yang objektif, saran yang membangun, dan dukungan terhadap program-program yang berpihak kepada masyarakat. Yang paling penting adalah kepentingan Kota Pematangsiantar dan kesejahteraan warganya,” pungkas Ahmad Nurdin.

Hingga berita ini ditulis, berbagai pandangan terkait aksi unjuk rasa tersebut masih berkembang di ruang publik. Perbedaan pendapat yang muncul menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang diharapkan tetap berlangsung dalam koridor hukum, etika, dan kepentingan bersama demi kemajuan Kota Pematangsiantar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *