Dari Kerukunan Hingga 4 Tipe Manusia, Ini Pesan Lengkap Plt Bupati dan Gus Mastur Di Perayaan Maulid Desa Gedangsewu

Avatar photo

Jadikabar.id || TULUNGAGUNG – Suasana khidmat menyelimuti Musholla Miftahul Khoir, Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Selasa malam, 1 September 2026. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar secara swadaya.

Kegiatan keagamaan tahunan itu terasa istimewa dengan kehadiran Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin. Kedatangannya disambut antusias warga dan menjadi jembatan komunikasi antara pemimpin daerah dengan masyarakat di tingkat dusun.

Di hadapan jamaah, Baharudin menitipkan pesan agar momentum Maulid tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan semata. Ia mengajak warga menjadikan peringatan kelahiran Nabi sebagai pengingat untuk memperkuat persatuan dan kepedulian sosial.

Menurutnya, ada tiga kunci yang harus dijaga bersama dalam kehidupan bermasyarakat, yakni kerukunan, silaturahmi antarwarga, dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Baharudin menegaskan, keteladanan Rasulullah harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Bukan hanya dihafalkan sebagai nasihat, melainkan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau lingkungan kita bersih, kerukunan kita jaga, silaturahmi tidak putus, itu sudah bagian dari meneladani ajaran Rasulullah,” ucap Baharudin di hadapan jamaah.

Puncak acara diisi tausiyah keagamaan oleh ulama muda sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darussolihin Campurdarat, Gus Mastur Sofwan. Dalam ceramahnya, ia mengupas tuntas tentang kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim.

Gus Mastur memaparkan, manusia memiliki empat tingkatan dalam hubungannya dengan ilmu. Tingkatan pertama adalah Aliman, yakni sosok yang mengajarkan ilmu kepada orang lain. Kedua, Muta’alliman, yaitu mereka yang terus-menerus belajar tanpa henti.

Ketiga adalah Mustami’an, golongan yang gemar mendengarkan ilmu dan nasihat kebaikan. Sementara tingkatan keempat adalah kelompok yang enggan belajar, tidak mau mengajar, dan menolak mendengarkan ilmu. Golongan terakhir inilah yang harus dijauhi.

“Paling tidak jadilah pendengar yang baik kalau belum bisa menjadi pengajar. Jangan sampai kita masuk golongan keempat, yang menutup diri dari ilmu,” pesan Gus Mastur.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan manfaat dari ilmu. Tidak ada alasan untuk menutup diri dari kebaikan.

Bagi warga Gedangsewu khususnya jamaah Musholla Miftahul Khoir, peringatan Maulid Nabi menjadi bukti nyata sinergi antara masyarakat dan pemerintah. Pembangunan daerah, menurut warga, tidak hanya bertumpu pada kebijakan dari atas, tetapi juga partisipasi aktif dari bawah.

Melalui kegiatan swadaya tersebut, nilai religius, semangat gotong royong, dan dukungan terhadap program pemerintah berjalan beriringan. Maulid Nabi pun menjelma menjadi ruang kebersamaan, bukan sekadar seremonial keagamaan. (Malik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *