Berita  

Menjerit! Omzet Pedagang Kuliner Pasar Rejowinangun Magelang Anjlok 30 Persen, Zonasi Jadi Sorotan

Kawasan kuliner Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, tengah menghadapi keluhan pedagang. Omzet disebut turun hingga 30 persen, sementara persoalan zonasi dan lokasi kawasan kuliner ikut dipersoalkan. Benarkah penataan zona menjadi salah satu penyebab kawasan tersebut semakin sepi?

Menjerit! Omzet Pedagang Kuliner Pasar Rejowinangun Magelang Anjlok 30 Persen, Zonasi Jadi Sorotan

MAGELANG, JADIKABAR.ID – Aktivitas perdagangan di kawasan kuliner Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, dikeluhkan semakin sepi. Sejumlah pedagang mengaku omzet mereka mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen, sementara persoalan penerapan zonasi pedagang turut menjadi sorotan.

Kondisi tersebut dinilai semakin menekan perekonomian pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas jual beli di pasar.

Salah seorang pedagang kuliner, Syt (47), mengatakan kondisi kawasan kuliner saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika pasar pertama kali beroperasi.

Menurutnya, penurunan jumlah pembeli mulai terasa signifikan sejak pandemi Covid-19 dan hingga kini belum sepenuhnya pulih.

“Kalau dibilang sekarang semakin menurun dan semakin sepi, pembeli yang datang hanya pelanggan tetap. Kalau dibandingkan sebelumnya, penurunannya sekitar 30 persen,” kata Syt, Selasa (1/9/2026).

Pada masa awal beroperasi, kawasan sentra kuliner Pasar Rejowinangun disebut mampu menampung sekitar 150 pedagang. Namun, seiring berkurangnya jumlah pembeli, sebagian pedagang memilih berhenti berjualan karena pendapatan dinilai tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Zonasi Pedagang Ikut Disorot

Selain melemahnya daya beli masyarakat, Syt menyoroti penerapan segmentasi atau zonasi pedagang yang menurutnya belum berjalan optimal.

Ia mengungkapkan, terdapat pedagang di area sayur maupun pakaian yang turut menjual makanan dan minuman ketika komoditas utama mereka sepi pembeli.

Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi pedagang yang memang menempati kawasan khusus kuliner.

“Harapannya kalau memang sudah ada tempat untuk jualan makanan, ya yang jualan makanan di tempat makanan. Yang jualan baju ya di tempat baju, sesuai tempatnya,” ujarnya.

Pasar Rejowinangun sendiri memiliki pembagian blok berdasarkan jenis komoditas sebagai bagian dari konsep Pasar Rakyat ber-Standar Nasional Indonesia (SNI).

Persoalan lain yang dikeluhkan pedagang adalah posisi kawasan kuliner yang berada di bagian belakang pasar. Lokasi tersebut dinilai tidak banyak dilalui pengunjung sehingga pedagang lebih bergantung pada pelanggan yang sudah mengenal tempat tersebut.

UPT Akui Ada Pedagang Beralih Komoditas

Staf Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Rejowinangun, Ratam (54), membenarkan bahwa persoalan pedagang yang beralih komoditas memang ditemukan di lapangan.

Menurutnya, terdapat pedagang yang pada awalnya memperoleh izin berjualan sayur, namun kemudian menjual makanan karena dagangan utamanya sepi.

“Kalau mengetahui itu, kami peringatkan untuk menyesuaikan dengan zonasinya. Biasanya mereka izin awalnya jualan sayur, kemudian karena sepi berganti jualan makanan,” kata Ratam.

Meski demikian, penanganan terhadap pelanggaran zonasi sejauh ini masih sebatas teguran secara lisan. UPT belum menerapkan sanksi khusus karena turut mempertimbangkan kondisi ekonomi pedagang.

Upaya Menghidupkan Kawasan Kuliner

UPT Pasar Rejowinangun menyatakan akan terus berupaya meningkatkan aktivitas dan keramaian di kawasan kuliner.

Salah satu kegiatan yang saat ini rutin dilakukan adalah senam pada setiap Sabtu pagi. Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 50 pedagang dan diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk menarik lebih banyak aktivitas masyarakat ke kawasan pasar.

Di sisi lain, keluhan pedagang mengenai penurunan omzet dan persoalan zonasi menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pengelolaan kawasan perdagangan, terutama agar pembagian zona yang telah ditetapkan dapat berjalan konsisten sekaligus tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi para pedagang.

Investigasi: Tofan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *