KOTA MAGELANG, JADIKABAR – Sejumlah siswa SMP Negeri 7 Kota Magelang mulai merasa jenuh dengan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di sekolah. Selain menu yang dinilai berulang, sebagian siswa mengeluhkan rasa makanan yang hambar serta tekstur lauk yang terlalu keras.
Salah satunya Haiva, siswi kelas IX SMPN 7 Kota Magelang. Siswa berusia 15 tahun itu mengaku mulai bosan karena menu yang diterimanya kerap berupa telur, tempe, tahu, maupun ayam.
“Bosan karena menunya telur terus, atau kalau enggak, tempe atau tahu. Kadang makanannya hambar, keras, jadi enggak saya makan,” ujar Haiva, Kamis (24/9/2026).
Haiva mengatakan dirinya pernah mendapatkan menu ayam goreng. Namun, karena merasa lauk tersebut hambar dan keras, ia memilih tidak mengonsumsinya dan memberikan lauk tersebut kepada teman sekelasnya.
Meski demikian, tidak seluruh makanan yang tersisa kemudian diberikan kepada siswa lain. SMPN 7 Magelang memiliki program pengolahan sisa makanan MBG sebagai bagian dari kegiatan pelestarian lingkungan sekolah.
Sekitar 570 siswa SMPN 7 Magelang menjadi penerima program MBG. Kepala SMPN 7 Magelang, Iwuk Juliyani, mengatakan kejenuhan siswa terhadap menu makanan yang disediakan oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Kota Magelang mulai terlihat belakangan ini.
“Anak-anak bosan karena menunya ayam, telur, ayam, telur,” kata Iwuk.
Menurut Iwuk, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan makanan yang telah diproduksi dan disediakan tidak seluruhnya dikonsumsi. Karena itu, pihak sekolah berupaya agar sisa makanan tidak langsung berakhir sebagai sampah.
“Mubazir kalau tidak dimanfaatkan,” ujarnya.
Pada awalnya, sisa makanan MBG dimanfaatkan sebagai pakan hewan ternak milik tenaga kependidikan sekolah. Namun, Tim Adiwiyata SMPN 7 Magelang kemudian mengembangkan pemanfaatan limbah tersebut sebagai bagian dari pembelajaran bagi siswa.
Program pengolahan limbah MBG mulai dijalankan pada Juli 2026. Sebelumnya, sekolah membentuk kader Adiwiyata dan memberikan pelatihan mengenai pengelolaan lingkungan serta pemanfaatan limbah makanan.
Kader Adiwiyata tersebut terdiri dari tujuh siswa yang berasal dari seluruh rombongan belajar. Mereka memiliki tugas berbeda, mulai dari pengelolaan pakan maggot hingga pembuatan ekoenzim dan pupuk organik.
Ketua Tim Adiwiyata SMPN 7 Magelang, Desi Wahyuningrum, mengatakan residu lauk-pauk yang tidak dikonsumsi siswa dimanfaatkan untuk pengembangbiakan maggot.
“Untuk setiap wadah dapat sekitar satu kilogram residu. Dalam dua minggu sampai 18 hari, kami sudah panen,” ujar Desi.
Sekolah saat ini memiliki tiga wadah untuk pengembangbiakan maggot. Namun, jumlah residu makanan yang dikumpulkan tidak selalu sama setiap harinya karena bergantung pada banyaknya makanan yang tersisa.
Sementara itu, sisa buah dan sayuran diolah menjadi ekoenzim serta pupuk kompos. Bahan pembuatan ekoenzim antara lain berasal dari kulit atau sisa buah seperti jeruk, melon, dan pisang yang kemudian dicampur dengan molase.
Menurut Desi, proses pembuatan ekoenzim membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga siap digunakan. Salah satu pemanfaatannya adalah membantu mengatasi saluran kloset yang mampet.
“Ini bisa dipakai buat melancarkan kloset yang mampet,” katanya.
Adapun kompos yang dihasilkan masih dimanfaatkan untuk tanaman di lingkungan sekolah. Air lindi yang berasal dari proses pengomposan juga digunakan untuk menyirami tanaman.
Haiva sendiri turut merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. Ia mengaku pernah membuat ekoenzim dengan memanfaatkan kulit buah dan sisa sayuran yang tidak termakan.
“Saya pernah buat ekoenzim dari kulit buah dan sisa sayuran yang enggak termakan,” tuturnya.
Iwuk mengatakan pengelolaan limbah MBG di sekolah masih menghadapi keterbatasan, terutama karena jumlah sisa makanan yang berubah-ubah. Sekolah juga belum menargetkan hasil pengolahan tersebut dalam jumlah besar atau untuk kegiatan usaha.
“Kemampuan kami terbatas karena belum skala wirausahawan. Kami berusaha, setidaknya, itu memberikan pengalaman belajar kepada anak-anak,” ujar Iwuk.
Melalui program tersebut, sekolah tidak hanya berupaya mengurangi makanan yang terbuang, tetapi juga menjadikan persoalan sisa menu MBG sebagai sarana pembelajaran bagi siswa mengenai pengelolaan sampah organik dan kepedulian terhadap lingkungan.
Abrian Tamtama













