SIMALUNGUN, JADIKABAR — Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Monumen Letda Anumerta Sujono, Bandar Betsy, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (1/10/2026).
Ribuan warga berkumpul di lokasi bersejarah tersebut untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 tingkat Provinsi Sumatera Utara. Namun, peringatan tahun ini tidak hanya menghadirkan prosesi upacara. Sejarah kelam Bandar Betsy kembali dihadirkan melalui sebuah fragmen teatrikal yang menyentuh perhatian masyarakat.
Bandar Betsy menjadi bagian penting dari catatan sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa yang terjadi pada 1965 terkait Gerakan 30 September (G-30S) meninggalkan luka sejarah yang hingga kini terus dikenang.
Dalam peristiwa tersebut, Sujono, yang ketika itu berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu), tewas secara tragis setelah dibantai anggota gerakan tersebut ketika mempertahankan aset negara yang direbut secara paksa.
Untuk mengenang pengorbanannya, lokasi peristiwa kemudian ditetapkan sebagai situs bersejarah nasional dan didirikan Monumen Letda Anumerta Sujono.
Setiap 1 Oktober, monumen tersebut menjadi lokasi pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 dipimpin langsung Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya, BSc selaku Inspektur Upacara.
Sementara Letkol Inf Mahfuz, S.Sos. dipercaya sebagai Komandan Upacara. Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda Provinsi Sumatera Utara, Bupati Simalungun Dr. H. Anton Achmad Saragih dan Wakil Bupati Benny Gusman Sinaga, ST, bersama jajaran Forkopimda serta Pemerintah Kabupaten Simalungun, Anggota Komisi C DPRD Provinsi Sumatera Utara Darma Putra Rangkuti, S.Hut., M.Si.
Turut hadir pejabat Pemerintah Kota Pematangsiantar, manajemen PTPN III Kebun Bandar Betsy, unsur perbankan, TNI, Polri, ASN, organisasi kemasyarakatan, pelajar hingga masyarakat umum. Ribuan warga turut menyaksikan jalannya peringatan tersebut dari sekitar lokasi upacara. Rangkaian kegiatan diawali dengan hening cipta, kemudian pembacaan Teks Pancasila oleh Inspektur Upacara.
Selanjutnya, Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara Dr. Sutarto, M.Si. membacakan ikrar. Pembukaan UUD 1945 dibacakan Yoel Herbinta Tarigan, anggota Pramuka Kwarcab Simalungun. Doa kemudian dipimpin Kakan Kemenag Simalungun Dr. H. Bahrum Saleh, MA.
Usai rangkaian utama upacara, Wakil Gubernur Sumatera Utara melakukan penempatan karangan bunga di Monumen Letda Anumerta Sujono.
Penghormatan terhadap jasa almarhum juga diwujudkan melalui pemberian tali asih kepada keluarga Letda Sujono.
Tali asih tersebut diserahkan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Simalungun, Pemerintah Kota Pematangsiantar, PTPN III Kebun Bandar Betsy serta lembaga perbankan. Namun, salah satu bagian yang paling menyita perhatian masyarakat justru hadir setelah rangkaian seremoni tersebut.
Di hadapan ribuan warga, masyarakat setempat menampilkan fragmen teatrikal peristiwa G-30S di Bandar Betsy. Anak-anak hingga orang dewasa menyaksikan pertunjukan tersebut dengan penuh perhatian. Fragmen itu menggambarkan kembali suasana dan detik-detik tragis yang dialami Letda Sujono ketika mempertahankan aset negara dalam peristiwa 1965. Bagi masyarakat Bandar Betsy, fragmen tersebut bukan sekadar pertunjukan. Drama sejarah itu menjadi cara untuk membawa generasi sekarang lebih dekat dengan peristiwa masa lalu yang terjadi di tanah mereka sendiri.
Adegan demi adegan seolah mengajak masyarakat untuk kembali mengingat bahwa di balik sebuah monumen terdapat kisah pengorbanan manusia yang nyata. Karena itu, pementasan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai patriotisme, cinta tanah air dan kesadaran sejarah, khususnya kepada generasi muda.
Sejarah tidak cukup hanya dikenang melalui nama yang tertulis di sebuah monumen. Sejarah juga perlu dipahami agar generasi berikutnya mengetahui nilai pengorbanan yang pernah diberikan untuk bangsa dan negara. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Bandar Betsy akhirnya tidak hanya menjadi agenda tahunan.
Di tempat yang menyimpan jejak sejarah tersebut, masyarakat kembali diajak memahami pentingnya persatuan, menjaga keutuhan bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semangat pengorbanan Letda Anumerta Sujono diharapkan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga Indonesia tetap utuh













