Malang, JadiKabar. Id – Limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai. Hal tersebut dibuktikan Athikah Nadia Nur Baiti, lulusan Program Studi Teknik Lingkungan S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).
Melalui penelitian tugas akhirnya, Athikah mengembangkan pemanfaatan biji salak sebagai bahan adsorben untuk memurnikan minyak jelantah. Minyak yang telah melalui proses pemurnian tersebut selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan lilin aromaterapi.
Inovasi itu sekaligus mengantarkan Athikah menjadi lulusan terbaik Prodi Teknik Lingkungan S-1 pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026. Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,59.
Penelitian Athikah mengangkat tema “Pengaruh Adsorben Biji Salak Teraktivasi H3PO4 Terhadap Pemurnian Minyak Jelantah Sebagai Bahan Baku Lilin Aromaterapi.” Riset tersebut dilakukan di bawah bimbingan dosen Candra Dwiratna Wulandari, ST., MT., dan Vitha Rachmawati, ST., MT.
Menurut Athikah, gagasan penelitian berawal dari persoalan sederhana yang sering dijumpai di lingkungan rumah tangga, yakni kebiasaan membuang minyak goreng bekas secara langsung ke saluran air.
“Minyak jelantah di rumah sering kali langsung dibuang ke sungai dan mencemari lingkungan. Dari situ saya tergerak memanfaatkan biji salak yang belum banyak dimanfaatkan menjadi arang aktif untuk memurnikan minyak sisa tersebut,” kata Athikah pada Jumat (18/9/2026) .
Dalam penelitian tersebut, biji salak terlebih dahulu dikeringkan selama sekitar satu minggu. Bahan kemudian disangrai dan diproses menggunakan furnace hingga berubah menjadi arang.
Arang biji salak selanjutnya dihaluskan dan menjalani proses aktivasi menggunakan larutan asam fosfat atau H3PO4. Proses ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan adsorben dalam menyerap berbagai pengotor yang terdapat pada minyak jelantah, termasuk komponen yang memengaruhi kualitas dan aroma minyak.
Dari sejumlah pengujian yang dilakukan, penggunaan 30 gram arang aktif biji salak untuk setiap 100 mililiter minyak jelantah memberikan hasil pemurnian paling optimal.
Hasil penelitian menunjukkan efisiensi penyisihan kadar air mencapai 81 persen. Sementara itu, bilangan asam pada minyak jelantah dapat ditekan hingga 97 persen.
Minyak hasil pemurnian kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari bahan pembuatan lilin aromaterapi. Berdasarkan pengujian, lilin dapat menghasilkan nyala api yang stabil, tidak menimbulkan asap hitam, serta memiliki waktu bakar yang lebih lama.
Biayai Penelitian dari Usaha Abon
Di balik pencapaian akademiknya, perjalanan Athikah menyelesaikan tugas akhir juga diwarnai perjuangan secara mandiri. Untuk membantu memenuhi kebutuhan biaya penelitian dan pengujian laboratorium, ia memilih menjalankan usaha makanan.
Berbekal resep keluarga, Athikah memproduksi abon udang rebon dengan perpaduan aroma kecombrang. Produk tersebut dipasarkan dengan merek ANNB Mart melalui sistem Pre-Order (PO), termasuk memanfaatkan media sosial dan platform TikTok.
Menariknya, sebagian bahan kecombrang yang digunakan untuk produknya ditanam sendiri di pekarangan rumah.
“Hasil dari jualan abon sangat membantu menambah uang saku dan menutup biaya riset laboratorium. Dari dulu saya memang suka berdagang,” ujarnya.
Selain fokus menyelesaikan studi dan menjalankan usaha, Athikah juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Ia tercatat pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) serta UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) VCC ITN Malang.
Bagi Athikah, penelitian yang dikerjakannya bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Ia ingin menunjukkan bahwa persoalan limbah dapat menjadi peluang untuk menciptakan produk yang memiliki nilai guna sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan mengikuti prosesi wisuda pada Sabtu, 19 September 2026, Athikah berharap dapat melanjutkan karier di bidang Teknik Lingkungan. Di sisi lain, ia juga berencana tetap mengembangkan usaha yang telah dirintis selama menjadi mahasiswa.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa inovasi di lingkungan kampus tidak selalu harus berangkat dari teknologi yang rumit. Pemanfaatan limbah sederhana, jika dikembangkan melalui penelitian dan ketekunan, dapat menghasilkan solusi yang memiliki nilai lingkungan sekaligus ekonomi.













