Berita  

Dinginnya Dieng Tak Surutkan Ribuan Wisatawan, Jazz Atas Awan Jadi Magnet DCF 2026

Suasana meriah Dieng Culture Festival Jazz Atas Awan saat wisatawan menikmati pertunjukan musik dalam rangkaian DCF XVI 2026 di Venue Pandawa, Banjarnegara.

Dinginnya Dieng Tak Surutkan Ribuan Wisatawan, Jazz Atas Awan Jadi Magnet DCF 2026
Dinginnya Dieng Tak Surutkan Ribuan Wisatawan, Jazz Atas Awan Jadi Magnet DCF 2026

Banjarnegara, Jadikabar.id – Dinginnya udara Dataran Tinggi Dieng tidak menyurutkan antusiasme ribuan wisatawan yang memadati Venue Pandawa, Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu malam (29/8/2026).

Mereka datang untuk menikmati salah satu pertunjukan yang menjadi daya tarik dalam Dieng Culture Festival (DCF) XVI 2026), yakni Jazz Atas Awan.

Gemerlap lampu panggung berpadu dengan suasana pegunungan Dieng. Penonton terlihat mengenakan jaket dan pakaian hangat, tetapi tetap bertahan menikmati pertunjukan musik hingga malam.

Panggung utama yang dihiasi dekorasi kepala Arjuna berukuran besar menjadi pusat perhatian. Sorotan lampu warna-warni semakin memperkuat suasana pertunjukan di tengah udara dingin khas dataran tinggi.

DCF XVI 2026 berlangsung pada 28 hingga 30 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Spirit of Harmony”. Tema tersebut membawa pesan mengenai keharmonisan antara manusia, budaya dan alam yang menjadi bagian penting dari identitas Dieng.

Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, sebelumnya menyampaikan bahwa festival tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya Dieng sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama DCF karena festival tersebut tumbuh dari masyarakat dan dikembangkan bersama masyarakat.

“Festival ini lahir dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat,” demikian semangat yang dibawa penyelenggara dalam pelaksanaan DCF 2026.

Salah satu pertunjukan yang paling ditunggu wisatawan adalah Jazz Atas Awan.

Pertunjukan musik tersebut menjadi pengalaman tersendiri karena digelar di kawasan dataran tinggi dengan latar alam Dieng. Musik dan suasana pegunungan berpadu menciptakan karakter berbeda dibandingkan pertunjukan musik yang digelar di kawasan perkotaan.

Sejumlah musisi tampil dalam rangkaian Jazz Atas Awan. Penampilan Kunto Aji menjadi salah satu yang mendapat perhatian dari penonton.

Lantunan musik yang dibawakan para musisi membuat suasana Venue Pandawa semakin hidup. Penonton ikut bernyanyi dan menikmati pertunjukan meski udara malam Dieng terasa dingin.

Bagi pengunjung, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman mengikuti DCF.

Salah seorang wisatawan asal Jakarta mengaku sengaja datang ke Dieng untuk menikmati perpaduan antara pertunjukan musik, budaya dan suasana alam pegunungan.

Ia menilai konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda karena wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pertunjukan musik, tetapi juga dapat menikmati berbagai kegiatan budaya yang menjadi bagian dari DCF.

“Suasananya berbeda dengan konser musik pada umumnya. Di sini kita bisa menikmati musik sekaligus suasana alam Dieng,” ujarnya.

Penyelenggaraan DCF XVI tidak hanya berpusat pada Jazz Atas Awan. Festival tersebut juga menghadirkan sejumlah kegiatan budaya dan pariwisata yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Dieng.

Salah satu yang paling banyak mendapat perhatian adalah ritual pencukuran rambut gimbal anak yang dilaksanakan di Kompleks Candi Arjuna.

Pada tahun ini, sebanyak 13 anak mengikuti rangkaian prosesi tersebut. Sebelum prosesi, mereka mengikuti kirab budaya menggunakan andong dari rumah tetua adat menuju kompleks Candi Arjuna.

Kehadiran ribuan wisatawan dalam prosesi tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat dari berbagai daerah.

Penyelenggara DCF menempatkan budaya sebagai salah satu bagian penting dari festival. Karena itu, rangkaian kegiatan tidak hanya menghadirkan hiburan modern, tetapi juga memberikan ruang bagi kesenian dan tradisi lokal.

Selain menjadi agenda pariwisata, DCF juga memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada wisatawan.

Sejumlah produk khas Dieng dan Banjarnegara seperti carica, purwaceng, kopi, batik serta berbagai produk UMKM turut mendapat perhatian selama festival berlangsung.

Kehadiran wisatawan dalam jumlah besar menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mendapatkan konsumen baru.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sebelumnya menekankan bahwa pengembangan pariwisata perlu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Festival budaya seperti DCF diharapkan mampu mempertemukan kepentingan pelestarian tradisi dengan penguatan ekonomi lokal.

Dengan demikian, keberadaan wisatawan tidak hanya berdampak pada sektor hiburan, tetapi juga menggerakkan sektor akomodasi, kuliner, transportasi, perdagangan dan UMKM.

Antusiasme wisatawan juga terlihat dari banyaknya pengunjung yang rela datang sejak sebelum acara utama berlangsung.

Salah seorang wisatawan asal Bandung, Pujianti, sebelumnya mengaku tertarik datang ke Dieng karena ingin melihat langsung tradisi dan rangkaian DCF yang selama ini hanya diketahuinya melalui media sosial.

Menurutnya, daya tarik Dieng tidak hanya berasal dari panorama alam, tetapi juga budaya yang masih dipertahankan masyarakat.

“Tidak hanya pemandangan alamnya yang indah, tetapi juga budaya yang ditampilkan. Itu yang membuat acara tahunan ini menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan alasan sebagian wisatawan menjadikan DCF sebagai tujuan perjalanan, bukan semata-mata untuk menikmati pertunjukan musik.

Mereka juga ingin mendapatkan pengalaman melihat langsung tradisi dan kehidupan masyarakat di kawasan Dieng.

Mengusung tema Spirit of Harmony, DCF XVI 2026 mencoba mempertemukan berbagai unsur dalam satu festival.

Alam menjadi latar utama, budaya menjadi identitas, seni menjadi media ekspresi, sementara masyarakat menjadi bagian penting dari penyelenggaraan.

Konsep tersebut juga menjadi pesan bahwa pengembangan pariwisata tidak harus meninggalkan budaya lokal.

Sebaliknya, budaya dapat menjadi kekuatan yang memperkaya pengalaman wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

Penyelenggara berharap DCF dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakter utamanya sebagai festival yang berangkat dari masyarakat Dieng.

“Semangat harmoni menjadi pesan penting dalam festival ini, bagaimana alam, budaya, seni, masyarakat dan wisatawan dapat hadir dalam satu ruang secara beriringan,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam penyelenggaraan DCF 2026.

Malam di Venue Pandawa akhirnya menjadi salah satu gambaran kemeriahan DCF XVI 2026.

Di tengah udara dingin pegunungan, ribuan penonton larut dalam musik. Sementara di sisi lain, rangkaian budaya tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari festival.

Perpaduan tersebut membuat DCF memiliki karakter yang berbeda. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat konser, tetapi juga mendapatkan pengalaman menikmati alam dan mengenal tradisi masyarakat Dieng.

Bagi pemerintah daerah dan penyelenggara, keberlanjutan festival menjadi bagian dari upaya memperkuat pariwisata berbasis budaya dan masyarakat.

Sementara bagi wisatawan, DCF menjadi kesempatan untuk menikmati Dieng dari sisi yang berbeda.

Dinginnya malam, gemerlap panggung, lantunan musik, tradisi rambut gimbal, hingga produk lokal masyarakat berpadu dalam satu perayaan.

DCF XVI 2026 pun kembali menunjukkan bahwa kekuatan Dieng bukan hanya pada keindahan alamnya, tetapi juga pada budaya dan masyarakat yang menjaganya tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *