Kisah Hamsah, Anak Buruh Sawit Sabah Malaysia Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

Kisah Hamsah, Anak Buruh Sawit Sabah Malaysia.

Malang, JadiKabar. Id– Keterbatasan ekonomi tak pernah memadamkan semangat Hamsah untuk meraih pendidikan tinggi. Putra dari pasangan buruh sawit, Hasan, dan Nurmiati yang merupakan seorang ibu rumah tangga ini berhasil menobatkan dirinya sebagai Wisudawan Terbaik Teknik Listrik D-III pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Pria kelahiran Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ini meraih IPK 3,65. Capaian tersebut lahir dari ketekunan panjang seorang anak yang sejak usia empat tahun diboyong orang tuanya merantau ke Sabah, Malaysia.

Ketika di wawancara Hamsah mengungkapkan, dari empat bersaudara, dialah yang menjadi satu-satunya berkesempatan mengecap bangku kuliah. Ia menamatkan sekolahnya di SMK Brantas Karangkates berkat beasiswa dari Yayasan BJ Habibie.

“Di keluarga, yang sekolah sampai tinggi cuma saya. Kakak-kakak tidak lanjut karena sekolah di sana sangat jauh. Saya bersyukur bisa dapat beasiswa ke Malang,” ucapnya, pada senin (14/9/2026).

Sebagai bagian dari syarat kelulusannya di perguruan tinggi, ia menyusun tugas akhir berjudul “Rancang Bangun PLTS untuk Aplikasi Hybrid sebagai Media Praktek Laboratorium”, di bawah bimbingan Ir. Eko Nurcahyo, MT., dan Bima Romadhon Parada Dian Palevi, ST., MT.

Inovasi ini berawal dari realitas di tempat tinggal orang tuanya di pelosok perkebunan kelapa sawit Sabah Malaysia. Wilayah tersebut belum tersentuh listrik negara, sehingga warga terpaksa bergantung pada nyala genset yang terbatas dari pukul 6 sore hingga 10 malam.

Hamsah merancang prototype Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrid berkapasitas daya 200 Wp (dua panel polikristalin 100 Wp) yang dipadukan dengan Solar Charge Controller (SCC) MPPT 30A, inverter hibrid 24V 600W, serta penyimpanan energi baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4) 24V 60Ah. Sistem hibrid ini bekerja otomatis memindahkan pasokan listrik ke PLN jika batas aman baterai tercapai, begitu pula sebaliknya jika PLN padam.

Menurutnya, dalam pengujian laboratorium, alat ini mampu menyuplai berbagai beban rumah tangga hingga 200 Watt, seperti lampu LED, kipas angin, hingga speaker. Meskipun sempat mengalami kendala teknis akibat trial and error yang menyebabkan baterai rusak hingga empat kali dan menelan biaya pengembangan kelompok sebesar 9 juta rupiah, sistem ini berhasil beroperasi dengan stabil.

“Saya tidak menyangka bisa jadi wisudawan terbaik. Saya hanya berusaha aktif dan fokus kuliah karena orang tua sudah berjuang keras bekerja di Malaysia,” tuturnya.

Setelah diwisuda, Hamsah yang aktif di UKM Voli dan Himpunan Mahasiswa Teknik Listrik D-3 ini berencana mencari pengalaman kerja di Indonesia. Ia juga berencana mengaplikasikan keahliannya untuk membangun PLTS mandiri skala rumah tangga di Polewali Mandar saat keluarganya kembali ke Indonesia.

Penulis: Irfan Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *