Malang, JadiKabar. Id– Apa yang sebelumnya hanya dipandang sebagai tanaman hias di halaman sekolah kini menjadi sumber belajar dan bahan kreativitas murid. Di SDN Karangbesuki 2 Kota Malang, bunga bougenville yang tumbuh subur di lingkungan sekolah dimanfaatkan dalam sebuah projek inovasi minuman yang melibatkan murid secara langsung dari proses pengamatan hingga menghasilkan karya.
Kegiatan bertajuk “Inovasi Minuman Berbasis Bunga Bougenville sebagai Pemanfaatan Potensi Lingkungan di SDN Karangbesuk 2 Kota Malang” tersebut dilaksanakan pada Rabu, 23 September 2026, pukul 07.30 – 12.00 WIB. Kegiata merupakan bagian dari Projek Kepemimpinan mahasiswa PPG dengan melibatkan murid, guru, dan tim pelaksana mahasiswa.
Sebanyak 57 murid terbagi dalam 12 kelompok mengikuti rangkaian kegiatan bersama lima guru dan 10 mahasiswa PPG PGSD. Mereka tidak hanya menerima penjelasan mengenai bougenville, tetapi juga menyaksikan demonstrasi, meracik minuman, menghias sajian, mengikuti lomba kreasi, dan mempresentasikan hasil kelompok.
Berangkat dari Tanaman yang Ada di Sekolah
Ide projek bermula dari potensi sederhana yang sebenarnya sudah tersedia di lingkungan sekolah. SDN Karangbesuki 2 memiliki pohon bougenville yang tumbuh subur dengan jumlah bunga yang cukup banyak. Selama ini, tanaman tersebut lebih dikenal sebagai tanaman hias. Ketika sedang berbunga, sebagian bunga yang gugur berakhir menjadi sampah organik.
Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa PPG untuk mencari alternatif pemanfaatan. Tim terlebih dahulu melakukan riset mengenai bunga bougenville dan kemungkinan pemanfaatannya sebalum mengembangkan kegiatan bersama murid.
Dari proses tersebut lahirlah gagasan untuk memperkenalkan pemanfaatan bunga bougenville melalui produk minuman. Gagasan itu kemudian dikemas bukan sebagai kegiatan demonstrasi semata, melainkan sebagai pengalaman belajar yang memberikan ruang bagi murid untuk mencoba dan berkreasi.
Dari Edukasi hingga Lomba Kreasi
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan dan pengenalan bunga bougenville. Murid memperoleh penjelasan mengenai tanaman yang berada di lingkungan sekolah tersebut, kemdian mengikuti edukasi dan demonstrasi proses pengolahan.
Bunga yang digunakan berasal dari lingkungan sekolah. Bunga segar dipilah dan bagian yang digunakan adalah kelopaknya. Setelah dipisahkan, kelopak dicuci hngga bersih. Tahap perebusan dilakukan oleh tim pelaksana karena menggunakan kompor yang tidak direkomendasikan untuk dioperasikan langsung oleh murid. Bunga direbus kurang lebih lima menit hingga air mendidih dan warna bunga terekstraksi.
Setelah itu, murid mengambil peran dalam proses peracikan. Mereka mencampurkan hasil rebusan dengan air, air gula, madu, lemon, daun mint, dan es batu. Setiap kelompok kemudian diberi kesempatan menentukan racikan dan tampilan sesuai kreativitas masing-masing.
Rangkaian praktik dilanjutkan dengan lomba kreasi. Rasa dan tampilan menjadi bagian penting dalam kompetisi. Hasil racikan pun beragam—ada yang menghasilkan rasa yang dinilai ideal, sementara beberapa kelompok menghasilkan rasa yang lebih asam atau lebih manis. Perbedaan tersebut menjadi bagian dari proses belajar. Murid berkesempatan mencoba, menilai hasil racikan, bekerja sama, dan mengambil keputusan bersama kelompok.
Dua Belas Kelompok, Dua Belas Kreasi
Sebanyak 12 kelompok berhasil menghasilkan produk minuman masing-masing. Selain produk buatan murid, tim pelaksana juga membuat satu produk contoh sehingga terdapat 13 produk dalam keseluruhan kegiatan.
Kreativitas paling terlihat pada dua unsur, yaitu rasa dan tampilan. Murid meracik sendiri takaran bahan serta mengembangkan hiasan minuman sesuai tema yang dipilih kelompok.
Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak seragam. Setiap kelompok memiliki karakter rasa dan tampilan yang berbeda. Perbedaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penilaian dalam kompetisi.
Seluruh kelompok berhasil menghasilkan produk dan memahami proses dasar pembuatan minuman. Hasil observasi menunjukkan bahwa seluruh 12 kelompok memperoleh skor minimal tiga pada aspek keaktifan dan ketertiban.
Antusiasme Murid Menjadi Bagian Penting
Bagi murid, kegiatan tersebut merupakan pengalaman yang relatif baru. Sebelumnya, mereka belum mengetahui bahwa bunga bougenville yang tumbuh di lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan menjadi bagian dari produk minuman.
Salah satu peserta, Faza, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan.
“Saya merasa sangat senang ikut kegiatan ini. Sebelumnya belum pernah, belum tahu kalau bunga itu tadi bisa dibuat minuman. Rasanya segar tergantung racikannya mungkin, ada yang rasanya asam sekali, manis, enak, beda-beda.”
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan memberikan ruang bagi murid untuk belajar melalui praktik langsung. Mereka tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mencoba meracik, menghias, berdiskusi, dan menghasilkan produk bersama kelompok.
Guru: Murid Belajar dari Potensi yang Ada di Sekitar
Wali Kelas VI SDN Karangbesuki 2, Ibu Baikunniyah, menilai projek tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid.
Menurut beliau, kegiatan tidak berhenti pada pengenalan bunga bougenville. Murid juga terlibat dalam menyiapkan bahan, membuat minuman, berdiskusi, serta mengembangkan ide dan kreativitas.
“Kegiatan Projek Inovasi Minuman Bougenville merupakan kegiatan yang menarik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid.”
Ibu Baikunniyah juga melihat adanya keterampilan lain yang berkembang selama kegiatan, mulai dari kerja sama, komunikasi, kemandirian, tanggung jawab, hingga keberanian mempresentasikan hasil karya. Beliau berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan agar murid semakin berani mencoba dan berinovasi menggunakan potensi lingkungan sekitar.
Data Evaluasi: Respons Positif Mencapai 84,9 Persen
Pelaksanaan projek tidak hanya didokumentasikan melalui produk dan kegiatan, tetapi juga dievaluasi menggunakan observasi dan kuesioner.
Hasil observasi terhadap 12 kelompok menunjukkan rata-rata nilai 78,0 dengan kategori Baik. Sebanyak satu kelompok memperoleh kategori Sangat Baik, tujuh kelompok memperoleh kategori Baik, dan empat kelompok berada pada kategori Cukup.
Aspek Keaktifan dan Ketertiban menjadi capaian tertinggi dengan rata-rata skor 3,58. Sementara itu, dua aspek yang masih memerlukan penguatan adalah Ketepatan Praktik dengan skor rata-rata 2,75 dan Presentasi dan Percaya Diri dengan skor rata-rata 2,67.
Dari 53 murid yang mengisi kuesioner, rata-rata nilai respons mencapai 82,7. Sebanyak 45 murid atau 84,9 persen memberikan respons positif. Angka tersebut melampaui target minimal 80 persen yang ditetapkan dalam evaluasi projek.
Hasil rekapitulasi juga menunjukkan bahwa tujuh indikator utama dinyatakan tercapai. Sementara itu, keterampilan mengikuti tahapan praktik dan kemampuan mempresentasikan hasil karya masih menjadi bagian yang perlu diperkuat dalam kegiatan berikutnya.
Bukan Sekadar Membuat Minuman
Ketua Projek Kepemimpinan, Bela Satifa, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk memperluas cara pandang murid terhadap lingkungan sekitar.
“Melalui projek ini, kami ingin mengajak murid melihat bahwa lingkungan di sekitar mereka memiliki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai. Kami tidak hanya ingin murid mengetahui bahwa bunga bougenville dapat dimanfaatkan, tetapi juga memberi mereka pengalaman secara langsung untuk mengamati, meracik, menghias, bekerja sama, dan mempresentasikan hasil karyanya,” ujar Bela Satifa.
Menurut Bela, tujuan kegiatan bukan hanya menghasilkan produk minuman. Murid juga diharapkan menjadi lebih peka dalam melihat potensi yang tersedia di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan kreativitas sekaligus belajar bahwa sebuah produk dapat lahir dari pengamatan terhadap lingkungan sekitar.
Disiapkan untuk Berlanjut
Projek ini juga diarahkan untuk tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Pihak sekolah memiliki rencana untuk melanjutkan kegiatan serupa dan memiliki rencana untuk menjaring partisipasi masyarakat yang lebih luas, sementara resep dan SOP pembuatan minuman akan diserahkan kepada sekolah.
Bagi tim pelaksana, keberlanjutan tersebut menjadi bagian penting agar pengalaman yang diperoleh murid dapat dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya. Hasil evaluasi menjadi pijakan untuk melakukan perbaikan. Pendampingan teknis dalam mengikuti tahapan praktik perlu diperkuat, begitu pula latihan presentasi agar murid semakin percaya diri ketika menyampaikan hasil karyanya.
Pada akhirnya, projek bougenville di SDN Karangbesuki 2 bukan hanya cerita tentang meracik minuman. Di balik bunga yang tumbuh di halaman sekolah, terdapat kesempatan bagi murid untuk belajar mengamati lingkungan, menemukan potensi, bekerja bersama, bereksperimen, berkreasi, dan menghasilkan sebuah karya.
Dari tanaman hias menjadi pengalaman belajar—bougenville menjadi pintu masuk bagi murid untuk melihat bahwa lingkungan di sekitar mereka dapat menjadi sumber ide, pengetahuan, dan kreativitas.











