Curanmor Marak di Sidoarjo, Warga Pertanyakan Efektivitas Patroli dan Penanganan Laporan

Avatar photo

Jadikabar.id || SIDOARJO — Maraknya pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di sejumlah wilayah Kabupaten Sidoarjo kembali menjadi sorotan. Warga yang menjadi korban mengaku tidak hanya mengalami kerugian materi, tetapi juga merasa dihantui rasa waswas setiap kali memarkir sepeda motor di rumah maupun tempat umum.

Persoalan tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: sejauh mana efektivitas upaya kepolisian dalam mencegah dan mengungkap kasus curanmor yang terus dilaporkan warga?

Keluhan masyarakat muncul setelah sejumlah korban mengaku telah melaporkan kehilangan kendaraan kepada kepolisian setempat. Dalam proses penanganannya, penyidik melakukan langkah-langkah penyelidikan, termasuk mencari informasi dan keterangan saksi.

Namun, masyarakat tentu berharap proses tersebut dapat berujung pada pengungkapan pelaku serta ditemukannya kendaraan yang hilang.

Kondisi ini kemudian menjadi perhatian warga karena kasus pencurian kendaraan bermotor bukan hanya persoalan kehilangan barang. Bagi sebagian masyarakat, sepeda motor merupakan sarana utama untuk bekerja, mengantar keluarga, menjalankan usaha, maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.

CCTV Terpasang, Kendaraan Tetap Hilang
Berbagai upaya pencegahan sebenarnya telah dilakukan masyarakat. Salah satunya dengan memasang CCTV di sekitar rumah dan lingkungan tempat tinggal.

Namun, keberadaan kamera pengawas belum tentu membuat pelaku mengurungkan niatnya. Dalam sejumlah kasus, pencurian tetap dapat terjadi ketika pemilik kendaraan sedang lengah atau ketika kondisi lingkungan sepi.

Hal tersebut membuat warga kembali bertanya, apakah CCTV saja sudah cukup untuk memberikan rasa aman?

Masyarakat berharap rekaman CCTV yang memperlihatkan aktivitas mencurigakan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai bagian dari bahan penyelidikan apabila terjadi tindak pidana.

Patroli Kepolisian Juga Dipertanyakan
Selain CCTV, patroli kepolisian selama ini menjadi salah satu bentuk kehadiran aparat di tengah masyarakat.

Namun, masih adanya laporan pencurian kendaraan bermotor membuat sebagian warga mempertanyakan apakah pola patroli yang dilakukan sudah benar-benar menyasar titik dan waktu yang rawan.

Warga berharap kegiatan patroli tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi dilakukan dengan mempertimbangkan pemetaan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi berdasarkan laporan dan kejadian sebelumnya.

Pertanyaan masyarakat sederhana: ketika curanmor terus terjadi, apakah pola patroli perlu dievaluasi dan diperkuat?

Warga Tidak Ingin Hanya Mendengar Imbauan.

Masyarakat tentu menyadari bahwa menjaga keamanan bukan semata-mata tugas kepolisian. Warga juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kewaspadaan.

Penggunaan kunci pengaman tambahan, parkir di lokasi yang aman, penerangan lingkungan, CCTV, pengawasan antarwarga, serta sistem keamanan lingkungan dapat menjadi langkah pencegahan.

Namun, masyarakat juga berharap upaya tersebut berjalan beriringan dengan respons kepolisian yang cepat ketika terjadi tindak pidana.

Warga tidak ingin hanya mendapatkan imbauan agar berhati-hati, sementara korban yang telah kehilangan kendaraan masih menunggu kepastian mengenai perkembangan laporan mereka.

Pertanyaan untuk Jajaran Kepolisian
Atas kondisi tersebut, masyarakat berharap jajaran kepolisian di wilayah Kabupaten Sidoarjo dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penanganan perkara curanmor.
Sult

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *