Malang, JadiKabar.Id – Suara dentuman keras yang terdengar di sejumlah wilayah Malang Raya pada Selasa malam (8/9/2026) sekitar pukul 22.00 WIB membuat warga bertanya-tanya. Suara tersebut dilaporkan terdengar di beberapa kawasan, mulai Pakis, Tumpang, Bumiayu, Landungsari, Blimbing, Arjosari hingga Karangploso.
Fenomena tersebut juga ramai diperbincangkan di media sosial Threads. Sejumlah warga membagikan pengalaman mereka mendengar suara yang muncul beberapa kali, sementara warga di wilayah lainnya mengaku tidak mendengar suara serupa.
Salah satu pengguna Threads dengan akun @mochammad.arie98 yang berada di kawasan Samaan, Kota Malang, mengaku mendengar suara dentuman hingga beberapa kali.
“aku nok sama’an yo krungui peng 4 lek gak salah, batinku paling onok sound horeg tapi gk mungkin lahh wong guduk weekend,” tulisnya.
Pengakuan serupa disampaikan akun @issafadla yang berada di Bunut, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Ia menyebut suara tersebut terdengar sekitar pukul 22.00 WIB.
“Aku di Bunut Pakis juga denger, sekitar jam 10 an,” tulisnya.
Ramainya laporan warga tersebut kemudian mendapat perhatian dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Stasiun Geofisika Malang melakukan pemeriksaan terhadap rekaman aktivitas kegempaan maupun sambaran petir pada waktu suara dentuman dilaporkan terdengar.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Karangkates, Ricko Kardoso, S.Tr., mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan tidak terdapat aktivitas gempa bumi tektonik yang dapat dikaitkan dengan suara dentuman tersebut.
“Kami melakukan pengecekan data pada sekitar jam 22.00 WIB dan tidak terjadi aktivitas gempa bumi tektonik di wilayah Malang dan sekitarnya yang berpotensi menimbulkan suara dentuman tersebut,” ujar Ricko ketika di konfirmasi, pada Rabu (9/9/2026).
Selain mengecek aktivitas kegempaan, BMKG juga berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru PVMBG. Koordinasi dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan suara yang terdengar di sejumlah wilayah Malang Raya.
Dari informasi yang diterima, aktivitas erupsi Gunung Semeru dalam beberapa pekan terakhir memang terkadang disertai suara dentuman atau gemuruh. Intensitasnya bervariasi, mulai lemah, sedang hingga kuat.
Menurut Ricko, suara tersebut berkaitan dengan peningkatan tekanan gas vulkanik. Kondisi atmosfer dan arah angin juga dapat memengaruhi seberapa jelas suara dari aktivitas Gunung Semeru terdengar hingga wilayah yang lebih jauh.
“Suara tersebut akan terdengar lebih jelas seiring arah angin dan saat Gunung Semeru tertutup kabut,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan, BMKG memastikan suara dentuman yang dilaporkan warga bukan berasal dari gempa bumi tektonik maupun sambaran petir. Namun, sumber pasti suara tersebut masih membutuhkan pengamatan lebih lanjut.
BMKG mengimbau masyarakat tidak langsung menyimpulkan sumber suara berdasarkan informasi yang beredar di media sosial. Warga juga diminta tidak mudah terpancing spekulasi dan tetap mengacu pada informasi resmi dari instansi terkait.
“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak berspekulasi mengenai sumber suara dentuman, serta tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial yang belum dapat diverifikasi kebenarannya. Masyarakat diharapkan selalu mengikuti informasi resmi dari instansi yang berwenang,” pungkas Ricko.













