Ribuan Warga Tumpah Ruah, Karnaval Budaya Gedangsewu Dibanjiri Lautan Pengunjung Semua Usia

Avatar photo

Jadikabar.id || Tulungagung –  Lautan manusia tumpah ruah memadati ruas jalan utama Desa Moyoketen – Gesangsewu – Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Sabtu malam, 22 Agustus 2026

Warga rela berdesakan sejak petang menjelang magrib demi menyaksikan karnaval budaya yang digelar Pemerintah Desa Gesangsewu, Kecamatan Boyolangu. Antusiasme warga begitu tinggi, hingga badan jalan nyaris tak menyisakan ruang kosong.

Karnaval budaya kali ini benar-benar menjadi magnet hiburan bagi masyarakat. Dentuman sound horeg berkekuatan enam subwoofer yang menggelegar berpadu dengan alunan musik karnaval menciptakan atmosfer meriah di malam minggu yang cerah.

Tidak hanya orang tua dan remaja, anak-anak usia sekolah pun tampak asyik menikmati setiap penampilan peserta. Mereka berjajar di tepi jalan, sebagian duduk lesehan, sebagian lainnya bermanja dengan gendongan orang tuanya agar bisa melihat lebih jelas.

“Antusiasme warga luar biasa. Sejak sore jalan sudah penuh. Ini bukti warga butuh hiburan yang sehat dan kebersamaan seperti ini,” ujar Waris, salah satu panitia di sela kegiatan.

Kemeriahan semakin terasa saat rombongan peserta karnaval mulai melintas satu per satu. Berbagai kreasi kostum budaya ditampilkan, mulai dari busana adat, kreasi daur ulang, hingga kostum tematik yang sarat pesan moral dan kebudayaan lokal.

Iringan sound horeg dengan kekuatan audio besar menjadi daya tarik tersendiri. Meski keras, dentumannya justru membuat warga semakin bersemangat. Banyak yang ikut bergoyang, merekam dengan ponsel, dan bersorak memberikan dukungan kepada peserta.

Miswan, Kepala Desa Gesangsewu menyebut, karnaval budaya ini sengaja digelar selain bertujuan untuk memeriahkan moment 17 Agustus, juga untuk melestarikan nilai-nilai budaya sekaligus mempererat kebersamaan antar dusun. Kegiatan ini juga menjadi ajang kreativitas bagi masyarakat tidak ketinggalan generasi muda agar tidak tergerus arus budaya luar.

“Karnaval ini kami kemas sebagai pesta rakyat. Tujuannya melestarikan budaya, membangun kerukunan, dan memberi ruang kreasi bagi anak-anak muda,” ungkap Miswan, Sabtu (22/8).

Menurutnya, pemilihan rute Moyoketen – Gesangsewu – Sobontoro bukan tanpa alasan. Jalur tersebut merupakan urat nadi aktivitas warga, sehingga diharapkan seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati tanpa harus datang jauh-jauh ke pusat kecamatan.

Panitia mencatat, jumlah penonton yang hadir mencapai ribuan orang. Kepadatan bahkan sempat membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi tersendat. Namun, berkat pengamanan dari karang taruna, linmas serta dibantu pemuda warga sekitar desa dalam menjaga parkir menjadikan acara tetap berjalan tertib.

“Alhamdulillah, meski kami dengan personil panitia yang terbatas tetap dapat melaksanakan kegiatan dengan lancar dan penonton meskipun membludak tetap tertib sehingga acara tetap kondusif”, tutur Akbar selaku ketua panitia.

Di sisi lain, warga mengaku senang dengan digelarnya karnaval malam hari. Suasana malam minggu membuat kebersamaan terasa lebih hangat. Banyak pedagang kaki lima yang ikut kebanjiran rezeki, mulai dari penjual cilok, es teh, hingga mainan anak-anak.

“Senang sekali ada karnaval seperti ini. Anak-anak bisa terhibur, masyarakat bahagia kami juga bisa jualan. Semoga tiap tahun diadakan,” ungkap Juni, salah seorang pedagang dengan senyum cerahnya.

Hingga berita ini ditayangkan, warga masih enggan beranjak mengingat jumlah peserta masih belum genap separo dari total dua puluh satu peserta Mereka terus mengikuti menjadi bukti bahwa hiburan rakyat berbasis budaya yang ditunjang oleh dentuman alunan musik masih sangat dirindukan. M.I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *