Berita  

Skrining TB dan Cek Kesehatan Gratis Digelar di Jawa Maraja, 37 Warga Masuk Kategori Terduga

Skrining TB dan Cek Kesehatan Gratis Digelar di Jawa Maraja, 37 Warga Masuk Kategori Terduga
Skrining TB dan Cek Kesehatan Gratis Digelar di Jawa Maraja, 37 Warga Masuk Kategori Terduga

JADIKABAR, JAWA MARAJA – Upaya menemukan kasus Tuberkulosis (TB) sedini mungkin terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Simalungun. Melalui Dinas Kesehatan, Pemkab Simalungun menggelar Skrining TB terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kantor Pangulu Jawa Maraja, Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Warga tidak hanya mendapatkan pemeriksaan terkait TB, tetapi juga memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan dasar serta edukasi mengenai penyakit menular dan tidak menular.

Skrining ini menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk menemukan warga yang diduga mengalami TB maupun mereka yang memiliki risiko tinggi tertular, terutama masyarakat yang memiliki kontak erat atau tinggal serumah dengan penderita TB.

Deteksi lebih awal dinilai penting untuk mencegah penularan sekaligus menekan risiko kesakitan dan kematian akibat penyakit tersebut.

Tim Dinas Kesehatan bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Jawa Maraja melakukan sejumlah pemeriksaan, mulai dari pengecekan gula darah, tekanan darah, asam urat hingga pengambilan sampel dahak bagi warga yang masuk kategori terduga TB.

Sampel dahak tersebut selanjutnya akan diperiksa melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mengetahui kemungkinan adanya bakteri penyebab TB.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun sekaligus Ketua Tim Skrining TB Terintegrasi CKG, Rosman Saragih, SKM, MKM, menjelaskan kepada masyarakat bahwa deteksi dini memiliki peranan penting dalam memutus mata rantai penularan TB.

Menurut Rosman, masyarakat perlu memahami bahwa TB dapat menular melalui percikan dari saluran pernapasan penderita, terutama ketika terjadi interaksi erat dalam lingkungan yang memiliki risiko penularan tinggi.

“Penyebaran bakteri TB terjadi melalui percikan ludah (droplet) dari penderita dan berkembang cepat terutama di lingkungan kumuh, serta sangat berisiko bagi mereka yang tinggal serumah atau berinteraksi erat dengan penderita,” ujar Rosman saat memberikan edukasi kepada masyarakat.

Ia meminta warga tidak mengabaikan gejala yang muncul dalam waktu cukup lama. Batuk berkepanjangan selama dua minggu atau lebih, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, hilangnya nafsu makan, berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas, serta tubuh yang terus-menerus terasa lemas merupakan sejumlah kondisi yang perlu diwaspadai.

Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Rosman juga menjelaskan sejumlah kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi tertular TB, di antaranya perokok aktif, anak-anak, lanjut usia, penderita diabetes dan penderita HIV. Risiko penularan juga dapat meningkat pada lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi dan kondisi sanitasi maupun kesehatan lingkungan yang kurang baik.

Dari pelaksanaan skrining di Jawa Maraja, tercatat sebanyak 90 warga mengikuti pemeriksaan TB.

Dari jumlah tersebut, 37 orang dinyatakan masuk kategori terduga TB dan selanjutnya menjalani pemeriksaan lanjutan melalui sampel dahak. Sampel tersebut akan diperiksa secara bakteriologis menggunakan metode TCM.

Rosman menegaskan, masyarakat tidak perlu takut apabila dinyatakan sebagai terduga TB. Menurutnya, TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila diagnosis ditegakkan dan pengobatan dilakukan secara teratur hingga tuntas sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

“Jangan ragu, apalagi bimbang. TB bukan penyakit yang tidak bisa diobati, TB dapat disembuhkan! Mari kita bekerja sama untuk lebih sehat. Temukan, Obati, Sampai Sembuh Tuberkulosis (TOSS-TB),” tegas Rosman.

Diagnosis TB dapat dilakukan melalui pemeriksaan bakteriologis serta pemeriksaan penunjang seperti X-Ray sesuai indikasi. Bagi pasien yang dinyatakan positif, pengobatan harus dijalani secara rutin dan disiplin hingga selesai.

Selain pemeriksaan TB, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan edukasi mengenai penyakit tidak menular. Warga diimbau untuk tidak menunggu munculnya keluhan berat dan membiasakan diri melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala di fasilitas pelayanan kesehatan.

Untuk memperluas jangkauan deteksi dini, Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun telah menyiapkan tim yang akan melaksanakan skrining di 228 titik lokasi di seluruh wilayah Kabupaten Simalungun.

Lokasi skrining mencakup berbagai lingkungan masyarakat, termasuk lembaga pemasyarakatan hingga kawasan permukiman.

Melalui pelaksanaan skrining secara luas tersebut, Pemkab Simalungun berupaya menemukan kasus TB lebih awal, memastikan warga yang membutuhkan mendapatkan pemeriksaan lanjutan, sekaligus memperkuat upaya pencegahan penularan di tengah masyarakat.

Program ini juga diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika sakit, tetapi dimulai dengan mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan secara berkala, serta segera mencari pertolongan medis ketika menemukan gejala yang patut dicurigai. (AN)

Penulis: Aswan Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *