MAGELANG, Jadikabar.id – Selter Ngesengan Kota Magelang yang telah direvitalisasi kini masih sepi pengunjung. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Magelang menyiapkan evaluasi untuk mencari solusi agar kawasan tersebut kembali ramai dan mampu menggerakkan aktivitas ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, persoalan sepinya aktivitas di Selter Ngesengan perlu dibahas bersama antara pelaku UMKM yang berjualan di kawasan tersebut dan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UMKM.
“Persoalan selter yang sepi perlu dibahas bersama. Terutama antara pelaku UMKM yang berjualan di lokasi tersebut dengan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UMKM,” kata Damar, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, evaluasi diperlukan agar fasilitas yang telah dibangun pemerintah dapat dimanfaatkan secara optimal serta memberikan dampak ekonomi bagi para pelaku UMKM.
Selter Ngesengan sebelumnya direvitalisasi sebagai bagian dari upaya penataan kawasan, memperbaiki wajah kota, mengurangi kemacetan, sekaligus menyediakan ruang usaha yang lebih tertata dan modern bagi pelaku UMKM.
Namun, setelah fasilitas tersebut tersedia, persoalan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan aktivitas dan menarik kembali masyarakat untuk berkunjung.
“Namun, setelah bangunan tersedia, persoalannya kini adalah bagaimana membuat fasilitas tersebut kembali hidup. Kami cari solusinya seperti apa, apakah tempatnya, apakah produknya. Ini perlu dibahas bareng,” ujarnya.
DPRD: Selter Ngesengan Sepi Aktivitas

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Magelang Evin Septa Haryanto Kamil mengatakan, minimnya aktivitas ekonomi di kawasan Selter Ngesengan sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Karena itu, menurutnya, evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kawasan tersebut belum mampu menarik pengunjung.
Evin mengatakan, hasil evaluasi nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah konsep penataan Selter Ngesengan perlu dipertahankan atau dikaji kembali.
“Evaluasi dapat mencakup berbagai aspek, termasuk kemungkinan perubahan bentuk maupun peruntukan kawasan. Namun langkah itu harus didahului kajian berdasarkan kondisi dan data di lapangan,” kata Evin.
Selain persoalan jumlah pengunjung, biaya sewa juga menjadi salah satu keluhan dari sejumlah penyewa. Biaya tersebut dinilai cukup berat bagi sebagian pelaku usaha di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih.
Menurut Evin, kondisi tersebut perlu menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam melakukan evaluasi terhadap keberlangsungan aktivitas usaha di Selter Ngesengan.
“Ada kemungkinan kebijakan keringanan atau pengurangan biaya sewa melalui pemerintah daerah dan dinas terkait. Kebijakan tersebut dapat dipertimbangkan jika kondisi perputaran ekonomi di shelter memang masih lesu,” katanya.
Evaluasi diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan kondisi di lapangan, sehingga Selter Ngesengan tidak hanya menjadi fasilitas hasil revitalisasi, tetapi juga dapat kembali berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi bagi pelaku UMKM dan masyarakat.
Kontributor: Abrian Tamtama













